Wednesday, May 04, 2005

Industri Furniture Klaten Terancam !

Klaten (KATALIS)
Akibat bencana alam angin ribut yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Klaten, seperti Kecamatan Jatinom dan Karangnongko beberapa waktu lalu, harga penjualan kayu anjlok sampai 50%.
Penyebab merosotnya harga kayu tersebut karena ribuan batang pohon kayu keras milik warga, seperti pohon durian, sengon, mahoni, munggur dan lainnya roboh saat terjadi bencana angin ribut itu.Batang-batang pohon mulai dari yang kecil hingga pohon besar berdiameter satu meter lebih itu banyak terdapat di daerah itu. Melimpahnya jumlah pohon yang roboh di daerah Jatinom itu memberi dampak buruk bagi harga penjualan. Pohon-pohon besar itu hanya dijual dengan separo harga dibanding pada hari biasa ketika pohon itu masih berdiri tegak.Menurut warga Beteng, Jatinom, Klaten Sumardi, harga kayu sengon berdiameter lebih dari 60 cm miliknya yang roboh akhirnya hanya dijual dengan harga Rp 500.000. Harga tersebut jauh lebih rendah dibanding pada hari biasa. Tetapi karena dia butuh uang untuk membangun kembali rumahnya, terpaksa kayu dijual murah kepada pedagang. ”Itu masih mending, untuk kayu randu pada saat ini tidak ada harganya sama sekali,” katanya Senin (1/5).Ungkapan senada juga dikemukakan, warga Paduman, Beteng, Jatinom lainnya Joko Sutanto. Dia menuturkan tiga pohon duren berdiameter sekitar 60 cm miliknya yang rubuh kemudian dijual dengan harga Rp 650.00. ”Itu saya jual sangat murah, hari biasanya satu batang tak boleh Rp 500.000. Tetapi karena pada saat ini di sini pohon melimpah dan kondisinya sudah tumbang maka harga menjadi jatuh,” ujar dia.Harga murahSelain faktor jumlah pohon yang tumbang banyak, faktor kebutuhan dana mendesak untuk kembali membangun rumah juga menjadi alasan jatuhnya harga kayu. ”Saat ini penduduk butuh dana untuk membangun rumah, sedangkan ada pohon yang tumbang dan dapat di jual, jadi daripada mangkrak ya lebih baik diuangkan. Meski harganya murah,” paparnya.Selain dijual pohon-pohon itu juga digunakan oleh empunya untuk pembangunan rumahnya. Seperti Martono, 85, mengaku bahwa sekitar enam pohon kelapa miliknya yang rubuh akan digunakan untuk memperbaiki rumahnya. Murahnya harga pembelian kayu memberikan keuntungan kepada pedagang kayu, Mugito, warga Jiwan, Karangnongko dan kawan-kawannya sesama pembeli pohon. Menurut Mugito selama lebih dari sepuluh hari terakhir ini dirinya banyak membeli pohon dari masyarakat, dengan harga murah, sekitar separuh dari harga normal dalam kondisi biasa. Dia mengaku untuk pohon kelapa pada saat ini dirinya hanya akan membeli maksimal seharga Rp 300.000 untuk pohon kualitas super. Padahal pada hari biasa pohon sejenis harganya dapat mencapai Rp 500.000. Demikian pula untuk pohon-pohon jenis lain seperti munggur maupun duren, harga Rp 300.000 sampai Rp 400.000 per batang sudah cukup tinggi, pada kondisi normal pohon sejenis dengan ukuran sama dapat mencapai harga dua kali lipat. ”Lebih enak lagi kalau membeli borongan, jadi membeli bebagai pohon dalam jumlah banyak tidak dihitung perbatang, harganya lebih rendah,” ujar dia. (AK)

1 Comments:

At 10:06 PM, Blogger MAJALAH-KATALIS said...

This comment has been removed by a blog administrator.

 

Post a Comment

<< Home